Pengaruh Musik Barat terhadap Generasi Muda di Indonesia
Sejak era globalisasi dimulai pada akhir abad ke-20, pengaruh budaya barat, terutama melalui musik, semakin menyebar ke seluruh dunia. Indonesia, sebagai negara yang terletak di Asia Tenggara, juga merasakan dampak dari arus globalisasi budaya ini. Musik Barat telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari generasi muda di Indonesia.
Globalisasi budaya merupakan
suatu gejala tersebarnya nilai-nilai dan budaya tertentu keseluruh penjuru
dunia sehingga budaya tersebut menjadi budaya dunia atau world culture dan telah terlihat sejak lama. Salah satu fenomena
Budaya Barat yang masih merajalela pada saat ini khusunya pada generasi milenial
indonesia adalah musik barat.
Musik Barat telah menjadi salah
satu bentuk hiburan yang paling populer di kalangan generasi muda di Indonesia.
Banyak acara televisi dan radio yang memutar lagu dari musisi-musisi Amerika
dan Inggris. Mereka juga banyak menggelar konser di Indonesia setiap tahunnya,
terutama setelah aturan PSBB resmi dicabut dan pandemi Covid-19 mulai reda. Banyak
juga anak muda yang mendengarkan lagu-lagu barat melalui platform streaming
musik online seperti Spotify dan Apple Music. Sehingga memudahkan akses masuknya
budaya mereka ke negeri ini.
Musik Barat sudah menjadi bagian
dalam lifestyle generasi saat ini,
ketika mereka hendak melakukan kegiatan apa saja, musik barat akan selalu
dilibatkan di dalamnya. Menurut mereka, mendengarkan musik sambil melakukan
kegiatan yang sedang mereka lalui akan menambah mood sehingga kegiatan yang dilakukan tidak akan terasa berat. Ada
pula yang berpendapat bahwa mendengarkan musik dapat meningkatkan konsentrasi
mereka dalam belajar maupun bekerja. Tentunya perspektif ini akan berbeda-beda
tergantung kepribadian dari masing-masing orang.
Sempat dilarang di era Soekarno
Di masa lalu, ketika The Beatles
sedang mencapai era masa kejayaan mereka, Soekarno bahkan pernah membuat
kebijakan yang bersifat anti-kolonialisme dan imperialisme. Demi memajukan
kebudayaan nasional, rakyat diperintah untuk mejauhi pengaruh budaya asing. Sama
halnya dengan musik, ia berfungsi sebagai alat revolusi.
Pada Surat Kabar Harian Minggu edisi
8 November 1964, Soekarno dengan tegas tidak membenarkan lagu 'klemak-klemik' ,
atau yang sekarang lebih dikenal dengan istilah ‘Lagu galau’. Karena
menurutnya, sebuah lagu semestinya menggambarkan 'fighting nation' atau
semangat perjuangan, bukan lagu 'ngak ngik ngok'. Mungkin kata ‘ngak ngik ngok' disini diambil dari
musik The Beatles, yaitu intro harmonika lagu Love Me Do. Menurut Soekarno, spirit
kebebasan yang dibawa The Beatles dianggap membahayakan budaya gotong royong
karena ia mengutuk liberalisme secara politik, ekonomi, dan budaya.
Guna mengiris pengaruh budaya
Barat itu ada sidang presidium 22 September 1964 yang terdiri dari Oei Tjoe
Tat, Adam Malik, dan Mayor Jenderal Achmadi. Sidang itu menghasilkan kebijakan
untuk menindak tegas warga yang masih mendengarkan dan memainkan musik 'ngak
ngik ngok'.
Polisi didukung kaum muda yang
berafiliasi dengan Lekra dan Pemuda Rakyat untuk merazia ratusan piringan hitam
dan alat perekam beserta kaset The Beatles, Rolling Stones, dan The Shadows.
Kepolisian memerintahkan pedagang piringan hitam untuk menyerahkan musik-musik
itu sampai sampai 22 Juli 1965.
Kelompok musik Koes Bersaudara yang kemudian dikenal sebagai Koes Plus juga kena imbasnya. Gaya mereka dianggap meniru The Beatles yang kebarat-baratan dan lagunya dianggap melemahkan mental generasi muda dengan nuansa-nuansa cinta. Mereka ditangkap dan lagu-lagunya dilarang beredar, bahkan album piringan-piringan hitam mereka dihancurkan.
Membawa dampak positif dan negatif
Berbicara terkait dengan pengaruh
musik barat di kalangan generasi milenial indonesia, tentunya memiliki dua
pengaruh seperti pengaruh positif dan pengaruh negatif. Banyak anak muda di Indonesia terinspirasi
oleh gaya busana musisi Barat dan mencoba meniru gaya mereka. Selain itu, gaya
hidup yang terkait dengan musik barat, seperti merokok, minum alkohol, narkoba,
dan pergaulan bebas juga semakin populer di kalangan generasi muda Indonesia.
Beberapa lagu Barat memiliki
lirik yang mengandung pesan-pesan yang tidak selalu positif, seperti kata-kata kasar, bunuh diri, dan kekerasan. Terlebih lagi, banyak anak muda di Indonesia
yang tidak mengerti bahasa inggris, sehingga mereka tidak menyadari pesan yang
terkandung dalam lagu-lagu tersebut. Hadirnya lagu-lagu barat ini juga membuat
generasi muda melupakan lagu serta musik tradisional yang sudah ada sejak zaman
nenek moyang mereka. Bahkan beberapa dari mereka tidak bisa berbicara bahasa
daerah sendiri.
Namun, terlepas dari banyaknya dampak negatif yang dibawa oleh musik barat, mereka juga memberikan beberapa dampak positif untuk perkembangan generasi muda di negeri ini. Salah satu pengaruh positif dari musik barat adalah bisa menjadi motivasi kepada generasi milenial dalam mempelajari bahasa Inggris dengan tujuan untuk meningkatkan skill berbahasa, sehingga generasi milenial tidak tertinggal pada era globalisasi saat ini. Alasan lainnya adalah karena bahasa inggris merupakan bahasa internasional, hadirnya lagu-lagu berbahasa inggris dapat mempermudah jalinan komunikasi antar negara bagi para generasi muda.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, pengaruh musik
barat terhadap generasi muda di Indonesia memiliki banyak dampak positif dan
negatif. Namun, hal ini tidak bisa dipungkiri bahwa musik barat telah menjadi
bagian penting dari kehidupan remaja Indonesia dan telah membawa banyak
perubahan dalam gaya hidup, bahasa, dan pemikiran mereka. Oleh karena itu,
penting bagi generasi muda Indonesia untuk tetap kritis dan selektif dalam
memilih musik atau lagu yang mereka dengar, serta menjaga moral dan etika dalam
kehidupan sehari-hari mereka.
Jenis artikel : Tajuk rencana





Comments
Post a Comment